Fokus dalam mencetak generasi-generasi Qur’ani, Sebelum melanjutkan artikel Tips Memilih Ilmu, Guru, dan Teman, Sekedar kami info:

Apabila Anda Mendambakan putra/putri untuk menjadi Tahfidz kunjungi website Pondok Pesantren Tahfidz</a

Dalam cari pengetahuan, seorang semestinya pilih ilmu dan pengetahuan yang terbaik atau terbaik dengan dianya. Pertama kali yang penting didalami oleh seorang ialah pengetahuan yang terbaik, dan yang dibutuhkannya dalam soal agama di saat itu. Selanjutnya baru beberapa ilmu yang dibutuhkannya pada periode mendatang.

Pengetahuan tauhid harus diprioritaskan, agar santri ketahui karakter-sifat Allah berdasar alasan yang orisinal. Karena imannya orang yang taklid (cuman ikuti saja) tanpa ketahui dalilnya, sekalinya syah, tapi dia berdosa karena tinggalkan istidlal (cari alasan panduan).

Seorang yang cari pengetahuan, harus pelajari ilmunya beberapa ulama salaf (baca: pengetahuan agama). Beberapa ulama berbicara, teruslah kalian pada ilmunya beberapa nabi (pengetahuan agama). Dan jika umat Muhammad telah sukai berbantah-bantahan dari mereka, itu pertanda akan hadirnya hari kiamat. Pertanda jika pengetahuan fiqih makin lenyap. Begitu menurut hadis Nabi.

Adapun langkah pilih guru atau kiai cari yang alim, yang memiliki sifat wara’, dan yang lebih tua. Seperti Abu Hanifah pilih Syekh Hammad bin Abi Sulaiman, karena beliau (Hammad) memiliki persyaratan atau karakter-sifat itu. Karena itu Abu Hanifah mengaji pengetahuan padanya.

Abu Hanifah berbicara,
قال ابو حنيفة رحمه لله تعالى وَجَدْتُهُ شَيْخًا وَقُوْرًا حَلِيْمًا صَبُوْرًا وقال ثَبَتُّ عِنْدَ حَمَّاد بنِ سُلَيْمَان فَنَبَتُّ

“Beliau ialah seorang guru bermoral mulia, penyantun, dan penyabar. Saya bertahan mengaji padanya sampai saya seperti saat ini itu.”

Abu Hanifah berbicara juga, “Saya pernah dengar seorang pakar makna dari negeri Samarkan berbicara, ‘Ada salah seorang penuntut pengetahuan bermusyawarah denganku saat akan ke Bukhara untuk menuntut pengetahuan,’.”

Cari pengetahuan ialah tindakan yang mulia, dan kasus yang susah, karena itu bermusyawarah atau meminta saran ke orang alim, sebagai poin penting dan satu kewajiban.

Demikian sebaiknya tiap siswa semestinya bermusyawarah sama orang alim, saat akan pergi menuntut pengetahuan atau dalam semua masalah. Karena Allah Ta’ala memerintah Nabi Muhammad SAW agar bermusyawarah dalam semua masalah, walau sebenarnya tidak ada seorang juga yang lebih pintar dari Beliau. Dalam semua masalah, beliau selalu bermusyawarah dengan beberapa teman dekat, bahkan juga dalam soal rumah tangga juga, beliau selalu bermusyawarah dengan istrinya. Sayidina Ali berbicara, “Tidak akan musnah orang yang ingin berdialog.”

Kenalilah juga, jika kesabaran dan keteguhan atau kesabaran ialah dasar dari semua masalah. Tetapi jarang-jarang sekali orang yang memiliki karakter-sifat itu, dalam sebuah syair disebut:

لِكُلٍّ اِلَى شَأْوِالْعُلَى حَرَكَاتُ * وَلَكِنْ عَزِيْزٌ فِيْ الرِّجَالِ ثَبَاتُ

“Tiap orang tentu memiliki keinginan mendapat posisi atau martabat yang mulia, tetapi jarang-jarang sekali orang yang memiliki karakter sabar, tegar, telaten, dan ulet.”

By Drajad