Cara menjaga kesehatan mata pada anak-anak

Kesehatan mata adalah salah satu modal penting bagi anak sebagai investasi jangka panjang di masa depannya. Itulah mengapa pemeliharaan kesehatan mata pada anak perlu diperhatikan sedari dini.

Ikuti info menarik lainnya hanya di Berita Ambon.

Di era digital dan masih mewabahnya virus Covid-19 yang mengharuskan anak melangsungkan sekolah secara daring, tentu membuat banyak orangtua merasa khawatir akan kesehatan mata buah hati mereka.

Pasalnya, anak yang terus menerus menatap layar gadget maupun televisi bisa mengakibatkan matanya lebih mudah lelah. Tak jarang hal ini akan membuat anak alami permasalahan kesehatan mata.

Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2021, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta mengadakan sharing edukatif pada Jumat (25/06) melalui Instagram Live bersama dr. Julie Dewi Barliana SpM(K), M.Biomed dan dr. Citra Amelinda SpA, IBCLC, MKes.

Melalui sesi tersebut, dr. Julie selaku dokter spesialis mata memberikan pemahaman kepada orangtua dalam merawat kesehatan mata anak, khususnya mereka yang saat ini tengah melakukan sekolah secara daring.

Cara menjaga kesehatan mata anak

Lantas, bagaimana cara merawat kesehatan mata di era digital menurut dr. Julie? Berikut telah kami merangkum informasi selengkapnya.

Saran untuk menyiasati screen time berlebih

“Di masa pandemi ini, mau tidak mau anak dihadapkan pada kegiatan yang tidak terlepas dari layar. dalam bentuk apapun. Baik laptop, tab, ipad, hp, gadget lainnya, dan televisi,” ujar dr. Julie.

Padahal, dr. Julie menyebutkan sebagaimana yang disarankan oleh American Academy of Pediatrics (AAP), screen time pada anak sebaiknya dilakukan tidak lebih dari satu jam dalam satu hari.

Sebagai dokter spesialis mata, dr. Julie pun meminta kepada seluruh orangtua untuk menyiasati screen time yang dihadapi anak agar kelak tidak muncul keluhan atau permasalahan di kemudian hari akibat paparan layar tersebut.

Adapun yang disarankan adalah dengan memberikan jeda waktu istirahat antara pelajaran satu ke pelajaran berikutnya. Ia menjelaskan untuk setidaknya memberikan waktu selama 30 menit sebelum anak memulai pelajaran selanjutnya.

Tak hanya itu, ajak anak melihat jarak jauh selama 20-30 detik dan membiarkan mereka untuk mengedipkan matanya. Sebab, saat anak terlalu dekat menatap layar atau terlalu fokus dengan sesuatu, kedipan matanya menjadi berkurang dan membuat mata menjadi kering.

“Saat mata menjadi kering, muncul lah kemudian keluhan-keluhan seperti mata berair, mata perih yang bisa muncul pada seorang anak. Satu hal yang musti diperhatikan adalah jarak mata dengan layar itu harus cukup jauh, sekitar 30-60 cm tergantung jenis layar yang ditatap,” tambahnya.

Lakukan metode 20, 20, 20

Saat anak dihadapkan dengan sekolah daring yang mengharuskan mereka terus menerus menatap layar, dr. Julie juga menyarankan kepada setiap orangtua agar melakukan metode 20,20,20 kepada anak mereka.

Pernah mendengarnya, Ma? Apa sih yang dimaksud metode 20,20,20?

Dijelaskan dr. Julie, metode ini adalah aturan anak dalam menatap layar. Di mana setiap 20 menit anak melakukan aktifitas menatap layar, maka lakukan juga melihat jarak jauh selama 20 detik dan dengan jarak 20 feet atau sekitar 6 meter.

“Kenapa harus melihat jauh? Karena pada saat melihat jauh, otot lensa mata menjadi rileks. Sehingga kontraksi yang terjadi pada otot mata ini kembali ke normal dulu, baru kemudian terjadi akomodasi lagi,” jelas dr. Julie.

Melihat jauh juga disarankan dengan melihat sesuatu yang hijau-hijau, Ma. Sebab, terdapat studi yang menjelaskan bahwa warna hijau adalah warna yang paling bisa diterima oleh retina mata.

Sehingga saat anak melihat jarak jauh dengan sesuatu yang berwarna hijau seperti tanaman yang ada di sekitar rumah, ini akan memberikan kesan lebih nyaman pada mata anak.

Jadi, menanam berbagai jenis tanaman hijau di rumah bisa menjadi solusi dalam menjaga kesehatan mata Mama dan keluarga di rumah lho!

Perlukah penggunaan filter blue light?

Di era digital seperti sekarang ini, mulai dari layar gadget, hingga kacamata yang digunakan banyak mempromosikan penggunaan layar anti radiasi maupun filter blue light atau sinar biru.

Menanggapi maraknya penggunaan sinar biru tersebut, dr. Julie menjelaskan bahwa sebenarnya belum ada studi yang membuktikan bahwa peranan sinar biru memengaruhi kesehatan mata.

“Kalau kita cari studinya, sebetulnya belum terbukti sampai saat ini peranan filter blue light itu terhadap mata. Lebih ke arah otak yang akan menggangu pola tidur anak. Kalau untuk mata sebetulnya tidak. Jadi kalau lensa anti radiasai atau anti sinar biru, nggak ada rekomendasi terus terang aja. Terpenting adalah menjaga jarak mata,” ungkapnya.

Memerhatikan penerangan layar dan ruangan

Penggunaan gadget pada anak saat ini memang tidak bisa kita cegah ya, Ma. Selain gadget sangat dibutuhkan untuk keperluan sekolah daring, gadget juga menjadi benda yang selalu dimainkan oleh anak-anak.

Tak hanya waktu belajar, saat malam menjelang tidur pun, anak lebih nyaman memainkan gadget mereka dalam keadaan kamar yang sudah redup. Padahal, kondisi itu bukanlah sesuatu yang baik, Ma.

dr. Julie dalam penjelasannya menyarankan kepada setiap orangtua agar memerhatikan penerangan layar dan ruangan yang anak gunakan dalam melakukan aktifitas menatap layar.

“Kalau (layar) terlalu kontras, maka mata ini akan menjadi cepat lelah. Terlalu gelap juga begitu. Jadi, kontras itu diciptakan oleh kondisi pencahayaan ruangan dan kondisi pencahayaan layar itu sendiri. Lebih baik lakukanlah aktifitas layar ini di dalam ruangan yang memang cukup penerangannya, jadi nggak gelap atau terlalu terang,” jelas dr. Julie.

Nutrisi yang diperlukan mata

Memasuki era digital, screen time pada anak memang tidak bisa dihindari. Terlebih keharusan sekolah daring yang banyak menghabiskan waktu anak berhadapan dengan layar.

Guna menjaga kesehatan mata anak, selain beberapa cara yang sudah disebutkan pada paparan sebelumnya, menjaga nutrisi mata anak juga penting dilakukan, Ma.

Seperti yang dijelaskan dr. Julie, “Mata juga perlu nutrisi, lebih ke arah antioksidan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, protein, itu juga sangat diperlukan oleh mata. Sayur buah yang baik untuk mata seperti wortel, tomat, jagung, sayuran hijau itu sangat dibutuhkan dalam menjaga nutrisi mata.

Selain itu, dr. Julie menegaskan kembali bahwa pemberian asupan bernutrisi kepada pengurangan minus mata anak tidaklah berkaitan. Ia menjelaskan, “Kadang-kadang orang menyebutkan sudah makan wortel, makan sayuran, minusnya kok nggak berkurang. Jadi, sebetulnya nggak ada hubungan antara asupan sayuran dan buah dengan perubahan ukuran kacamata. Memang (sayur dan buah) itu adalah nutrisi yang diperlukan oleh mata.”

Itulah beberapa pemahaman terkait cara menjaga kesehatan mata anak di era digital menurut dokter spesiallis mata, dr. Julie Dewi Barliana SpM(K), M.Biomed.

Semoga informasi di atas bermanfaat dan dapat menjadi pemahaman baru bagi Mama untuk senantiasa menjaga kesehatan mata buah hati di rumah, terutama di era sekolah daring seperti sekarang ini.